Oh my God,. Aku nggak pernah nyangka akhirnya karangan
iseng-isengan ini bisa selesai dan menjadi seperti ini. Aku ucapin terima kasih
banyak kepada orang tuaku yang selalu mendukung langkahku, kepada Mega Novita
sahabatku yang telah mengetik cerita ini, dan kepada seluruh sahabat dan
teman-teman IPA Ang. 7 SMANSATAPATI.
Mengenai judul cerita ini, entah dari mana aku menemukan
judulnya, tiba-tiba aja mencul diotak. Awalnya aku pusing tentuin judul yang
cocok, langsung deh muncul kata ‘Are We Destened? (Apakah Kita Berjodoh?)’ dari
kepala. Are We Destened ini merupakan cerita pertama yang iseng ku selesaikan.
Cerita ini aku tulis waktu kelas 11 dan baru bisa ku selesaikan Agustus 2014
lalu.
Akhir kata tiada gading yang tak retak, begitupun dengan
novelette ini, masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu aku sangat
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari kalian semua,
demi perbaikan karangan cerita-cerita berikutnya. Terima kasih.
Penulis
BAGIAN
1
Pagi yang cerah, matahari terbit di
timur tanpa terhalang oleh awan. Disebuah rumah berwarna putih, tampak seorang
gadis yang memakai seragam SMA berdiri di ambang pintu. Gadis itu bernama
Aliya, ia hendak berangkat sekolah. Aliya mengenakan baju lengan pendek dan rok
panjang. Rambutnya yang keriting gantung melewati bahu dibiarkan terurai.
Aliya
adalah seorang anak tunggal, jadi tidak heran jika dia sangat disayangi oleh
kedua orang tuanya. Kedua orang tua Aliya bekerja di salah satu rumah sakit
besar yang juga merupakan rumah sakit milik mereka. Ayah Aliya, Pak Hery
Parwira adalah direktur utama rumah sakit itu, sedangkan ibunya Zulaika Izma,
sebagai dokter spesialis anak.
Ketika
hendak berangkat ke sekolah, mobil Aliya rusak, ban depannya bocor. Maka ia
meminta kepada ayahnya untuk mengantarnya.
“ Pa,
anterin Aliya ya Pa !” Aliya memohon.
“ Iya
sayang pasti Papa anter.” Kata ayah Aliya tersenyum.
“ ya
udah Pa kita berangkat sekarang, Aliya sudah hampir telat nih.” Ucapnya pada
ayahnya. Lalu Aliya berpamitan pada ibunya, kemudian berangkat.
Setelah
tiba disekolah, Aliya langsung ke kelasnya. Tepat di depan sebuah ruangan yang
diatas pintu bertuiskan “XII IPA-2”, Aliya berhenti lalu masuk. Didalam kelas
itu ternyata sudah ada yang menunggu kedatangannya.
“Bren,
lo udah datang ?” sapa Aliya sambil melempar senyum.
Brenda
adalah sahabat Aliya sejak masuk di SMA. Penampilan Brenda berbeda dengan
Aliya. Brenda mengenakan rok pendek dan rambutnya hitam lurus.
“ Dari
tadi gue nungguin lo, Al.” Kata Brenda lalu berdiri.
“Nungguin
gue ? Tumben banget lo nungguin gue, biasanya kurang lima menit sebelum bel lo
baru dateng.” Kata Aliya sambil berjalan menuju kursinya dan meletakkan tasnya
disana.
“ Tapi
hari ini beda Al, gue sengaja datang awal. Lo tau kenapa ?”
“Emangnya
kenapa ?” tanya Aliya penasaran.
“ Saat
ini tuh hati gue sedang berbunga-bunga, Al”.
“Lo
kenapa sih? To the point aja deh.”
“Tadi
malam gue jadian sama Dimas.” Kata Brenda bersemangat.
“Kirain
juga apa. Gak penting banget deh.”
“Ya,
lo gak asyik Al, teman lagi bahagia gini juga.” Brenda ketus.
“Ya
terus guee harus bagaimana ?”
“Lo
ngucapin selamat ke’, atau apalah, peduli dikit donk, Al.”
“Ya
udah, BRENDA SELAMAT YA, ELO UDAH JADIAN AMA DIMAS.” Teriak Aliya .
Semua
orang yang ada dikelas melihat ke arah mereka.
“Sialan
lo, al.” Kata Brenda dengan suara kecil sambil meirik-lirik ruangan sekelas dan
menahan malu.
Bel masuk pun berbunyi, mereka akan
belajar Fisika untuk dua jam kedepan.
***
Panas matahari teras membakar
ubun-ubun kepala. Aliya tidak mungkin pulang di bawah terik matahari seperti
ini dengan berjalan kaki, walaupun rumah Aliya tidak terlalu jauh dari sekolah.
Aliya
mengambil handphone dari sakunya, lalu hendak menelpon Kang Mul, sopir Aliya.
Tapi tiba-tiba sebuah mobil Avanza hitam berhenti tepat didepan Aliya. Kaca
jendela mobil itu terbuka perlahan, dan tampak didalamnya seorang cowok.
“Al,
lo belum pulang ?” Tanya cowok itu.
“Aldy,
nih gue baru mau minta jemput.” Ucap Aliya sambil tersenyum.
“Gimana
kalau gue yang antar lo pulang ?” kata Aldy dengan senyum mautnya, yang buat
cewek klepek-klepek. Udah gitu anak ini cool banget lagi.
“Benerannih,
lo mau ngantar gue pulang ?”
“Ya,
ia lah Al. Udah ayo masuk, panas nih.” Ucapnya.
Aldy dan Aliya udah kenal sejak
lama, tapi setiap mereka ketemu seperti orang yang tidak saling kenal. Aldy
menyalakan mobilnya, lalu mobil Avanza hitam melaju dan hilang di tikungan.
Setelah
sampai di depan rumah Aliya, Aliya turun.
“Makasih
ya Al.” Ucap Aliya.
“Sama-sama
Al.” Ucap Aldy.
Kalau begini mereka biasanya tertawa
karena nama panggilan mereka mirip, “Al”. Lucu ya.
“Lo
nggak mampir dulu, Al ?” Tanya Aliya.
“nggak
usah deh Al, soalnya gue buru-buru nih.” Kata Aldy.
“Ya
udah, gue masuk dulu ya. Lo hati-hati di jalan ya, Al.” Aliya tersenyum.
“Ya,
gue cabut dulu ya.” Aldy tersenyum simpul, lalu pergi.
Semenjak pulang sekolah, Aliya
kepikiran sama Aldy terus. Bayangan Aldy seperti menghantui dirinya.
“Kenapa
ya hari ini gue kepikiran sama Aldy terus ? padahal bukan baru kali ini gue
diantar sama dia ?!”
Pertanyaan ini mengganggu pikiran
Aliya. Memang benar, Aldy sudah beberapa kali ngantar Aliya pulang, tapi nggak
pernah sekalipun Aldy mampir.
Ternyata tak disangka Aldy juga
sedang memikirkan hal yang sama. Aliya bagaikan sesuatu yang indah yang tak
dapat dia pungkiri. Aldy menyimpan rasa terhadap Aliya.
***
Makan malam dirumah Aliya. Baru kali
ini Aliya dapat makan bersama dengan kedua orang tuanya, tanpa merasa
terganggu. Karena kadang kala Ayah dan Ibunya harus lembur. Aliya biasanya
hanya ditemani dengan Bi Ijah, pembantunya. Tapi kali ini Aliya dapat makan
bersama dengan kedua orang tuanya.
“Al,
kamu inikan sebentar lagi lulus, kamu maunya kuliah dimana ?” Tanya Ayah Aliya.
Kalau bahas masalah kuliah, Aliya
pasti bersemangat.
“Bagusnya
dimana ya Ma ?” Aliya malah bertanya kepada mamanya.
“sebaiknya
kamu kuliah di luar negeri saja, bagus kan Pa ?”
“Iya,
ada baiknya kamu kuliah diluar negeri saja.” Papanya menimpali.
“Tapi
Aliya nggak mau jauh dari Papa dan Mama.” Kata Aliya sambil menancapkan garpunya
ke salah satu lauk.
“Terus
kalau kamu disini, kuliahnya dimana ?” Tanya Mamanya.
“Nanti
aja deh Ma dibahas, Aliya nggak tau nih
mau kuliah dimana. Masih bingung.”
“Tapi
secepatnya kamu beritahu kami, jadi nanti kalau kuliah diluar Papa sama Mama
bisa siap-siap.” Kata Ayahnya sambil tertawa.
Keluarga ini begitu harmonis. Nggak ada perselisihan antara Ayah dan Ibu,
Ayah dan anak maupun Ibu dan anak. Makan malam selesai, Aliya bergegas menuju
kamarnya. Tiba-tiba saja, Ibunda tercintanya memanggil dengan lembut.
“Sayang,
bagaimana dengan kami ?” Kata mama Aliya.
“Maksud
Mama apa ? Aliya nggak ngerti deh.”
“Sama
cucu-cucu kami nantinya.” Ayahnya menimpali.
“Ah Papa
sama Mama, nanti saja. Itu urusan belakang.” Kata Aliya lalu berlari masuk ke
kamarnya. Ayah dan Bundanya hanya tertawa bahagia melihat tingkah anak semata
wayang mereka.
***
Pagi hari dirumah Aliya, ketika
Aliya hendak kesekolah.
“Sayang,
hari ini Mama sama Papa akan berangkat keluar negeri.”
“Hah....
keluar negeri ?” Tanya Aliya yang tersentak kaget.
“Iya
sayang Papa dan Mama mau ke London, ada bisnis disana.” Kata Papanya.
“Kalau
Papa sama Mama ke London, jadi Aliya gimana donk ?”
“Kan
ada Bi Ijah.” Kata Bundanya.
“Terus....
berangkatnya hari ini ?” Tanya Aliya.
“Iya
sayang, soalnya Papa sudah beli tiketnya.”
“Terus....
sekarang jalannya ?” Tanya Aliya lagi.
“Nggak,
nanti siang.” Kata mamanya.
“Asyik,
jadi Aliya bisa antar Mama sama Papa kebandara donk.”
“Iya...
Kan Papa sengaja berangkat siang supaya kamu bisa antar Papa sama Mama ke bandara.”
“Ya
sudah... Aliya berangkat dulu ya Pa, Ma.” Aliya pamitan, lalu bergegas ke
sekolah.
Sesampainya di sekolah, tiba-tiba
Aldy menghampiri Aliya.
“Al,
pulangan nanti lo mau nggak temani gue ke toko buku ?”
“Aduh
gimana ya Al, bukannya gue nggak mau, tapi bokap sama nyokap gue mau ke London
nanti siang, jadi gue harus antarin mereka ke bandara. Sorry banget ya Al.
Minta temanin sama yang lain saja ya.” Kata Aliya menjelaskan.
“Ya
udah deh kalau lo nggak bisa.” Ucap Aldy setengah ketus sambil meninggalkan
Aliya.
“Al,
gue nggak bisa, lo pasti ngerti kan ?”, teriak Aliya. Tapi Aldy pura-pura tidak
mendengarkan Aliya. Tiba-tiba HP Aliya berdering, sebuah SMS.
“Gue
ngerti kok Al, santai aja !” Aldy pengirimnya.
“Ya
emang lo harus ngerti Al, soalnya kan lo nggak penting-penting banget bagi gue,
sedangkan nyokap bokap gue?” kata Aliya pada dirinya sendiri, sambil berjalan.
Tanpa diketahuinya Aldy ada dibalik dinding, dan mendengarkan kata-kata Aliya.
Entah kenapa, Aldy langsung merasa kecewa.
Ketika Aliya melewati sebuah ruangan
yang sepi, dimana tempat Aldy tadi berdiam, tiba-tiba, tangan Aldy meraih
tangan Aliya. Aliya tersentak kaget, karena tubuhnya langsung berbalik kearah
Aldy. Mata mereka beradu, sunyi, sepi....
“Lo
jawab dengan jujur, apa gue nggak penting-penting amat buat lo ?” Kata Aldy
memecah kesunyian.
Aliya nggak tau harus jawab apa.
“Al,
asal lo tau sejak gue kenal sama lo, gue itu suka sama elo.” Ketika itu Aldy
mengngkapkan perasaannya terhadap Aliya.
“Elo
serius suka dan sayang sama gue ?” Tanya Aliya.
“Emangnya
lo nggak pernah lihat bagaimana gue perhatian sama lo, Al ?” Kata Aldy...
Aliya
pergi meninggalkan Aldy. Aliya menuju kelasnya, dan menceritakan semuanya pada
Brenda.
“Jadi
lo udah jawab Al ?” tanya Brenda.
“Belum.”
“Lo
tunggu apa lagi coba?.... Lo tau sendiri Aldy itu orangnya cakep, pinter, tajir
lagi. Aduh lo pasti nyesal kalau nggak terima.”
“Jadi
lo ngedukung gue kalau gue jadian sama Aldy ?” Tanya Aliya.
“Ya ia
lah Al, kalau lo seneng, gue juga ikut seneng.” Brenda meyakinkan.
“Bren,
pulang sekolah lo mau kemana ?”
“Gue
langsung pulang, emangnya kenapa Al ?”
“Papa,
Mama gue berangkat ke London siang ini, lo mau kan temanin gue ngantar mereka
ke bandara ?”
“Kenapa
lo nggak minta temanin sama Aldy saja ?” Kata Brenda menggoda Aliya.
“Katanya
dia mau ke toko buku.” Ucap Aliya.
Pulang
sekolah, Aliya dan Brenda langsung menuju bandara Halim Perdana Kusuma. Setelah
sampai, mereka bertemu dengan Papa dan Mama Aliya. Aliya berpelukan dengan
ibunda tercintanya.
“Sayang,
jaga diri kamu baik-baik ya. Kalau ada apa-apa langsung hubungi Mama.”
“Pasti
Ma.”
Aliya
lalu melepas pelukan ibundanya kemudian memeluk Ayahnya.
“Papa,
jaga Mama ya, Papa jangan lupa istirahat!” Aliya menasehati.
“Pasti
sayang, kok kamu kayak kepengen Papa sama Mama nggak pulang ?” Tanya Papanya.
“Bukan
gitu Pa, Aliya Cuma khawatir aja sama Papa dan Mama.”
“Oh
iya sayang, Papa sama Mama berangkat dulu ya.” Kata papanya sembari berpelukan
dengan Aliya dan bersalaman dengan Brenda.
Mereka
memasuki pesawat, perlahan pintu pesawat tertutup, bergerak meninggalkan
landasan, suaranya berlalu....
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar